Perebutan Kekuasaan Islam di Bumi Nusantara

by -16 Views
pejuang mengusir penjajah

Indonesia adalah negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Sejarah mencatat, ulama atau kyai sebagai pemimpin umat dan santri sebagai tulang punggung utama pewarisan nilai nilai islam, memiliki peran penting dalam perjuangan bangsa.

Dalam sejarah politik tak terhitung nama besar tokoh islam yang menjadi pelopor kebangkitan kebangsaan Indonesia, demikian juga dengan perlawanan bersenjata semangat jihad fisabilillah, adalah bara yang menyalakan api perjuangan semenjak awal kedatangan orang orang barat ke bumi nusantara.

Di sepanjang kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda sampai perang di masa revolusi kemerdekaan. Perlawanan umat islam melawan penjajah terbentang panjang sejak awal kedatangan bangsa barat ke bumi nusantara, dimulai dari era kerajaan-kerajaan islam.

Pemberontakan petani, dan ulama lokal hingga perang Jawa yang dikobarkan oleh pangeran Diponegoro dengan sekian perlawanan yang terus berlangsung seakan tak ada habisnya. Belanda menyadari betapa umat islam adalah musuh terbesar atas kekuasaan mereka di bumi nusantara.

Dari berbagai penelitian disebutkan, Belanda menemukan bahwa ibadah haji adalah salah satu gerbang penting dapat memicu tafsir revolusioner kaum pribumi.

Menurut Sejarawan UGM, Arif Akhyat, “hadirnya kyai menjadi sangat penting dalam masyarakat pedesaan untuk merebut islam nusantara di masa apapun jadi tidak hanya masa revolusi saja tapinkemudian masa revolusi itu masa dimana kebutuhan akan tokoh manusia menjadi penting” cetusnya saat wawancaranya TvOneNews.

Bahkanm Profesor sartono menyebutkan bahwa “kyai dalam masyarakat yaitu sebagai kebutuhan leadership Ketika masyarakat chaos”. Kemudian secara politis ibadah haji yang menjadi tonggak utama kekuatan islam pribumi yang semakin diperhatikan secara serius saat VOC bangkrut, dan penguasaan nusantara dipegang oleh Pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Dan itulah yang tidak diharapkan oleh Raffles pada bukunya “The History Of Jaffa”. Raffles menyebut bahwa orang yang baru melakukan ibadah haji dianggap suci dan sangat dihormati, maka tidak sulit bagi mereka untuk menghasut rakyat agar berontak dan mereka jadi berbahaya tangan penguasa-penguasa pribumi.

Seiring berkembangnya pondok pesantren serta lembaga Pendidikan dan organisasi islam pada saat yang bersamaan, kaum terdidik bumi putera mulai membangkitkan semangat kebangsaan dan nasionalisme. Tokoh-tokoh islam ikut terlibat dalam arus zaman. Demikian ini termasuk dengan mendirikan organisasi-organisasi islam.

Pada tahun 1912, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah dan KH Hasyim Asy’ari mempelopori pembentukan Nahdlatul Ulama pada tahun 1926. Organisasi dan pendidikan mengubah jalan perjuangan kaum pribumi nusantara. KH Hasyim Asy’ari juga pernah ditahan dengan beberapa santrinya karena penolakan Seikerei.

Seikerei adalah ritual penghormatan terhadap Kaisar Hirohito dan ketaatan pada Dewa Matahari (Amaterasu Omikami). KH Hasyim Asy’ari yang meyakini Keesaan Allah tidak bersedia melakukan Seikerei, dan akhirnya ditahan dengan bersama para santrinya serta disiksa sebelum akhirnya dibebaskan agar terhindar dari marabahaya Umat Muslim Nusantara.

Saat itu bumi nusantara mulai membaik dan melucuti jepang (Nippon) yang akhirnya dipukul pergi dan oleh rakyat bumi nusantara. Dari kejadian itu, akhirnya Indonedia mulai memberontak dan mengerahkan laskar laskar (santri) untuk melawan sekutu diberbagai daerah di Indonesia.

Demikian sejarah Indonesia yang telah melewati peristiwa-peristiwa penuh air mata dan darah. Di masa lalu, semangat jihad fisabilillah untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan menafikan segala keterbatassn kemerdekaan yang masih harus terus dijaga dan diperjuangkan sampai kelak terwujudnya cita-cita para pendahuli negeri, untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang bersatu berdaulat, adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia.

Oleh:

Nazwa Huda Aulia
Mahasiswi STEI SEBI

Leave a Reply