Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi dan Tenaga Kerja Terhadap Kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat

by -7 Views
ilustrasi investasi
gambar ilustrasi

Salah satu permasalahan yang masih dihadapi oleh negara Indonesia yaitu masalah kemiskinan. Masalah kemiskinan merupakan masalah yang kompleks dan bersifat multidimensional sehingga menjadi prioritas pembangunan.

Selama ini, pemerintah Indonesia telah banyak memiliki program-program untuk pengentasan kemiskinan yang ada. Upaya pengentasan kemiskinan terdapat dua strategi yang harus di tempuh.

Pertama, melindungi keluarga dan kelompok masyarakat miskin melalui pemenuhan kebutuhan mereka dari berbagai bidang. Kedua, melakukan pelatihan kepada mereka agar mempunyai kemampuan untuk melakukan usaha pencegahan terjadinya kemiskinan baru.

Kemiskinan merupakan persoalan atau fenomena yang sudah umum terjadi di khalayak masyarakat. Tidak hanya di negara-negara berkembang, kemiskinan tentunya juga melanda negara-negara yang sudah maju. Kemiskinan adalah keadaan dimana ketidak mampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal dan lainnya.

Hidup dalam kemiskinan bukan hanya hidup dalam kekurangan uang dan tingkat pendapatan rendah, tetapi juga banyak hal lain, seperti tingkat kesehatan, pendidikan rendah, perlakuan tidak adil dalam hukum, kerentanan terhadap ancaman tindak kriminal, ketidakberdayaan menghadapi

kekuasaan, dan ketidakberdayaan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri. Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidakmampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar,ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.

Berawal dari kemiskinan akan muncul masalah-masalah sosial lainnya seperti banyaknya anak- anak yang putus sekolah karena orang tuanya tidak mampu membayar uang sekolah, banyaknya pengemis-pengemis yang berkeliaran di sekitar masyarakat.

Data BPS menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin pada 10 tahun terakhir mengalami naik turun. Yang mana pada tahun 2012 jumlah penduduk miskin sebanyak 401.5 jiwa, pada tahun 2013 sebanyak 384.1 jiwa, pada tahun 2014 sebanyak 354.74 jiwa, pada tahun 2015 sebanyak 379.6 jiwa, pada tahun 2016 sebanyak 371.55 jiwa, pada tahun 2017 sebanyak 364.51 jiwa, pada tahun 2018 sebanyak 357.13 jiwa, pada tahun 2019 sebanyak 348.22 jiwa, pada tahun 2020 sebanyak 344.23 dan pada tahun 2021 jumlah penduduk miskin di Sumatera Barat sebanyak 370.67.

Berdasarkan grafik diatas, jumlah penduduk miskin di Sumatera Barat mengalami fluktuatif. Peningkatan dimulai dari tahun 2014 hingga tahun 2015. Pada tahun 2015 jumlah penduduk miskin di Sumatera Barat mencapai jumlah terbanyak yaitu sebanyak 379.6 jiwa.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Yang pertama, yaitu banyaknya bencana alam yang terjadi sehingga menyebabkan sektor pertanian dan perkebunan bergejolak. Yang kedua, yaitu adanya urbanisasi. Dan yang ketiga, yaitu karena kenaikan harga BBM.

Walaupun ditahun selanjutnya jumlah penduduk miskin di Sumatera Barat mengalami penurunan, namun di tahun 2021 jumlah penduduk miskin di Sumatera Barat kembali meningkat dari tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin di tahun 2020 sebanyak 344.23 jiwa meningkat menjadi 370.67 jiwa pada tahun 2021. Hal ini merupakan dampak dari pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia bahkan di negara- negara lainnya.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemiskinan di Sumatera Barat, seperti laju pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Pertumbuhan ekonomi dapat menjadi instrumen yang sangat berpengaruh dalam pengentasan kemiskinan. Berbagai pembangunan diluncurkan oleh pemerintah, khususnya di Sumatera Barat.

Pembangunan-pembangunan tersebut secara tidak langsung sudah membuka lapangan kerja bagi tenaga kerja yang sedang mencari kerja atau yang sedang membutuhkan pekerjaan. Banyaknya lapangan kerja yang disediakan pemerintah akan menekan angka pengangguran yang juga menekan angka kemiskinan di Sumatera Barat.

Tentunya, pemerintah juga harus berperan dalam meningkatkan sumber daya manusia. Hal ini dapat diperlihatkan dengan meningkatnya keahlian dan pengetahuan seseorang. Tenaga kerja yang berkualitas akan menghasilkan tingkat produktivitas yang baik pula.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Barat dapat terlihat dari pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) harga konstan. Pertumbuhan ekonomi pada suatu daerah jika terus meningkat pada waktu ke waktu. Ini menunjukkan bahwa perekonomian daerah tersebut mengalami peningkatan.

Sebaliknya apabila perekonomian tidak mengalami peningkatan bahkan mengalami penurunan, itu menunjukkan bahwa perekonomian suatu wilayah tersebut tidak mengalami peningkatan dan tidak mengalami kemajuan yang baik.

Berdasarkan grafik, dapat dilihat bahwa pada tahun 2020 laju pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh sektor pertanian dinilai lebih mendominasi, namun kontribusi sektor pertanian dalam laju pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat relatif menurun dari tahun ke tahun dengan capaian pada tahun 2020 sebesar 1,19 persen.

Data BPS menunjukkan bahwa jumlah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Sumatera Barat 10 tahun terakhir mengalami naik turun. Membaiknya perekonomian pada awal tahun 2017 memberikan dampak positif terhadap perbaikan penyerapan tenaga kerja. Kondisi tersebut tercermin dari kenaikan tingkat partisipasi angkatan kerja yang diiringi dengan relatif menurunnya tingkat pengangguran.

Tingginya penyerapan tenaga kerja tahun 2018 yaitu mencapai sebesar 73.02 persen pada bulan Februari masih didominasi sektor pertanian dan perdagangan namun persentasenya cenderung turun dibandingkan tahun sebelumnya karena adanya peralihan tenaga kerja ke sektor lain terutama industri pengolahan dan sektor jasa.

Sumatera Barat merupakan salah satu Provinsi yang memiliki banyak sektor, seperti sektor pertanian, perkebunan, perdagangan, perikanan, pariwisata, dan lain- lain. Akan tetapi pemerataan pembangunan masih belum merata di setiap kabupaten/kota di Sumatera Barat dan hal ini disebabkan oleh masalah penyerapan tenaga kerja yang belum maksimal, kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi yang lambat.

Hal tersebut merupakan masalah pembangunan yang umum dihadapi oleh setiap daerah. Kondisi kependudukan daerah menunjukan bahwa jumlah penduduk disetiap kabupaten/kota yang ada diprovinsi Sumatera Barat bervariasi antara daerah yang satu dengan yanglainnya.

Berdasarkan fenomena faktual dan empiris sebelumnya, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganilisis bagaimana hubungan pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja terhadap kemiskinan dengan menggunakan metode pendekatan persamaan simultan.

Ruang lingkup penelitian ini tergolong penelitian kuantitatif dengan metode statistik. Tujuan penelitian ini untuk memberikan gambaran, penjelasan serta validasi suatu fenomena yang diteliti. Dalam penelitian ini akan dilihat seberapa besar pengaruh variabel eksogen terhadap variabel endogen.

Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah yaitu sebagai masukan bagi pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam menyusun program atau rancangan pembangunan terkait dalam upaya pengentasan kemiskinan di Sumatera Barat. Selain itu, penelitian ini dapat digunakan untuk menyusun dokumen perencanaan, peraturan kepala daerah, program kerja.

Ruang lingkup penelitian ini tergolong dalam penelitian kuantitatif karena sasaran penelitiannya yang luas dengan menggunakan penekanan analitis pada data numerik untuk menguji suatu teori dengan metode statistik. Dalam penelitian ini dapat dilihat seberapa besar pengaruh variabel eksogen terhadap endogen.

Oleh :
Faisal Danil
Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis Islam
UIN Imam Bonjol Padang

Leave a Reply